Thursday, September 22, 2011

[Sinopsis] Movie Daisy Bagian Pertama


 DAISY
Directed by : Andrew Lau
Screenplay : Felix Chong, Jin Gan-San, Kwak Jae-Yong
Genre : Melodrama, Romance
Durasi : 113 menit


Cast:
Jeon Ji-Hyeon
Jeong Woo-Seong
Lee Seong-Jae




Cerita dimulai dari seorang gadis bernama Hye Young yang sering mendapat kiriman misterius sebuket bunga daisy. Dan di tempat lain seorang pria juga mendapat sebuah kiriman sebuket bunga tulip berwarna hitam, dia adalah Park Yi.

POV Park Yi
Bunga dapat memberikan cinta tetapi dapat juga menjadikan kematian. Aku mulai menanam bunga-bunga berharap mereka akan membantu menghilangkan bau mesiu pada diriku, tetapi jauh di dalam hatiku bau mesiu masih tetap tidak hilang. Revolver 357 magnum tidak meninggalkan jejak. Untuk pembunuh meninggalkan jejak berarti kematian.
 
Park Yi mengambil sebuah map yang berisi foto dan alamat target selanjutnya.Park Yi bergegas menuju tempat yang dimaksud yaitu sebuah gedung yang terlihat klasik dan didominasi oleh warna emas. Tatapannya tetap siaga dan waspada. Sebuah pintu terlihat di hadapannya, Park Yi masuk dan tatapannya bertemu dengan seorang pria yang merupakan targetnya. Dengan sekali tarikan pelatuk pistol, Pria yang berada di hadapannya seketika roboh.
 
Park Yi kemudian menuju ke sebuah gedung tua. Di depan pintu dirinya diperiksa oleh beberapa pria berpakaian hitam-hitam. Seseorang memeluknya ketika Park Yi masuk ke dalam ruangan dan sepertinya dia adalah Bos Park Yi. 
“selamat datang, aku menyesal membuatmu bekerja lagi”
“mengikuti aturan membuatmu hidupmu lebih baik” ucap Park Yi
“lihatlah dirimu seperti bongkahan batu, berat, keras dan tidak berubah”
“kamu sangat mengetahui diriku”
“tentu saja, aku mendengar kamu memiliki hobi baru belakangan ini”
“aku menanam bunga”
“aku pikir ada seorang gadis. Bagi seorang pembunuh,wanita lebih berbahaya daripada sebuah senjata, anda harus berhati-hati. Lihatlah pistol antik ini, jika anda tidak menjaganya dengan baik maka dia akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum anda anda bisa membunuh musuhmu, begitu juga dengan Wanita, ambil ini”
 
Park Yi mengambil pistol dari tangan Bosnya dan memeriksa pistol tersebut. Seorang pria yang duduk di dalam ruangan tersebut diam-diam memperhatikannya dan terlihat waspada. Park Yi mengembalikan pistol kepada Bosnya dan tersenyum.
 
Hye Young seorang gadis berusia 24 tahun yang mempunyai Hobby melukis. Karena Hobbylah mengantarkan Hye Young menjadi seorang pelukis jalanan. Akhir-akhir ini hari-hari Hye Young disibukkan oleh sebuah kiriman paket misterius, walaupun Hye Young berusaha mencari tahu bahkan menunggu di depan toko antik milik keluarganya, Hye Young tetap tidak bisa menemukan sosok misterius tersebut.
 
POV Hye Young
Siapa yang melakukannya? Orang yang mengirimkan kepadaku bunga setiap pukul 04.15 sore. Aku mencari arti dari bunga daisy dan jawabannya adalah cinta yang tersembunyi. Kakekku berpikir, aku ini seperti barang antik karena di usiaku yang ke 24 tahun aku sama sekali belum pernah berpacaran dan kencan. Tapi aku memiliki seseorang yang aku tunggu.
 
Di sore hari yang sama, tanpa disadari Hye Young seseorang diam-diam memperhatikannya dari lampu listrik jalanan di seberang jalan dan dia adalah Park Yi.

POV Park Yi
Aku ingat pertama kali aku melihatnya tanggal 15 April. Satu hari dimana aku membunuh seseorang untuk pertama kalinya.
 
Park Yi berada di sebuah rumah yang terlihat asri yang menghadap ke sebuah ladang yang ditumbuhi banyak bunga daisy. Tatapan Park Yi terus saja tertuju pada sosok seorang wanita yang mencuri perhatiannya. Wanita tersebut sedang asyik melukis dan sama sekali tidak menyadari Park Yi yang memandanginya dengan takjub.

Park Yi terkejut saat melihat Hye Young menyebrangi sebuah jembatan kayu dan terjatuh ke dalam sungai. Park Yi berlari sekencang-kencangnya dan melihat Hye Young berusaha bangkit dengan sebuah kanvas di tangannya sementara tas Hye Young yang berisi kuas terbawa arus sungai.
Park Yi tanpa diberi aba-aba berenang ke dalam sungai dan mengambil tas milik Hye Young, sayang Hye Young sudah pergi dengan sepedanya dan sepertinya tidak memperdulikan tas miliknya.

Setelah itu aku mulai memberikan bunga daisy padanya setiap hari. Karena dia aku mulai belajar tentang Van Gogh, Monet dan Rembrandt
 
Park Yi pindah ke sebuah apartemen baru dan alasan kepindahannya adalah agar bisa melihat Hye Young setiap hari. Hye Young akan berada di jalan tempat para pelukis jalanan berkumpul dan kebetulan tempat Hye Young biasa melukis menghadap ke apartemen baru Park Yi. Dan setiap pukul 5 sore, Hye Young akan menikmati secangkir kopi panas dan Park Yi dari atas apartemennya memandangi Hye Young sambil menikmati segelas kopi panas seolah-olah dirinya dan Hye Young sedang minum bersama.
 
Kebiasaan baru Park Yi mengantarkannya ingin mengenal sosok Hye Young lebih jauh. Tidak hanya memperhatikan Hye Young dari atas apartemennya tetapi juga menghabiskan waktunya dengan duduk di sebuah coffee house tidak jauh dari tempat Hye Young melukis dan Park Yi mulai belajar melukis.
 
POV Hye Young
Mengapa ia selalu mengirim bunga tetapi tidak pernah menunjukkan sosok dirinya???

Tepat pukul 04.15, disaat Hye Young sedang menikmati segelas kopi, seseorang tanpa sengaja mendekatinya dan meminta untuk dilukis olehnya. Tidak seperti pelanggan-pelanggan lainnya,kali ini Hye Young merasakan sesuatu yang berbeda pada pelanggannya apalagi pelanggan tersebut membawa sepot bunga daisy.
 
Belum selesai Hye Young melukis, pria tersebut mengatakan harus pergi. Hye Young tentu saja terkejut.
“aku harus pergi” ucap Jeong Woo
“tapi ini belum selesai” ucap Hye Young panik
“ah, anda orang Korea?” tanya Jeong Woo sedikit terkejut mendengar bahasa Hye Young
“ya”
“apa anda berada disini besok?” tanya Jung Woo dan Hye Young mengangguk “aku akan kesini lagi besok di waktu yang sama, anda bisa menyelesaikannya” tambah Jung Woo dan bergegas pergi. 
Hye Young terus memandangi sosok Jung Woo yang mulai menjauh dan melihat bunga daisy yang ditinggalkan Jung Woo.
 
Malam harinya, Hye Young menyelesaikan lukisan wajah Jung Woo.


Keesokan harinya
Disaat Hye Young sedang melukis seorang anak kecil, Jung Woo muncul dan tersenyum padanya. Hye Young pun membalas senyum Jung Woo dan berusaha secepat mungkin menyelesaikan lukisan yang sedang dikerjakannya.
“aku minta maaf, aku menumpahkan kopi di lukisan anda, aku akan memulainya lagi” ucap Hye Young
“oke” jawab Jung Woo dan pandangannya mulai teralihkan pada arah belakang tempat Hye Young duduk.
 
Hye Young berdiri dari kursinya dan menegur Jung Woo “maaf, anda harus melihat ke arahku”
“oh, aku minta maaf”
 
Sementara itu dari atas apartemen, Park Yi terlihat marah melihat seorang pria mendekati Hye Young. Park Yi yang notabene seorang pembunuh bayaran mengambil senapan laras panjangnya dan mengarahkannya ke arah Jung Woo.
 
Beberapa menit berlalu dan seperti hari sebelumnya, Jung Woo kembali mengatakan harus pergi. Namun kali ini, Hye Young berhasil menahan Jung Woo sedikit lebih lama.
“tunggu, aku sudah menyelesaikannya” ucap Hye Young senang dan menunjukkan hasil lukisan wajah Jung Woo
“wah, cepat sekali” ucap Jung Woo pada Hye Young
“aku bisa melakukannya lebih cepat lagi”
Jung Woo tidak menjawab dan memandangi lukisan Hye Young dan sesekali melirik ke belakang Hye Young.
“aku bisa mengulanginya jika anda tidak suka” ucap Hye Young ketika melihat raut wajah Jung Woo
“ah tidak, bagaimana kalau aku datang lagi minggu depan dan anda bisa membuatkan satu untukku, sampai nanti” ucap Jung Woo
“tunggu sebentar, ada sesuatu di wajah anda” ucap Hye Young dan menghapus noda kuas di wajah Jung Woo. (Sewaktu Hye Young menegur Jung Woo tanpa sengaja tangannya menyentuh wajah Jung Woo).

POV Park Yi
Siapa pria itu? Siapa dia yang bisa membuatnya tersenyum?
 
Jung Woo pergi dan Hye Young terus memandangi Jung Woo yang mulai menjauh, sementara Park Yi perlahan-lahan menurunkan senjatanya.

Seminggu kemudian
Hujan turun dengan deras dan mengharuskan Hye Young untuk berteduh. Hye Young memandangi kuas dan cat lukis yang lupa diambilnya dan terkena derasnya air hujan.

POV Hye Young
Hujan turun dengan deras dan dia tidak datang, mungkin jika tidak hujan, aku sekarang sudah duduk disana dan menunggunya
Dari kejauhan terlihat dua orang pria yang sedang memandangi Hye Young. Mereka adalah Park Yi yang memakai mantel berwarna hitam dan Jung Woo yang menggunakan payung.

Jung Woo melihat pria menggunakan mantel berwarna hitam memasuki sebuah lorong sempit. Jung Woo berlari mengejarnya namun sayang pria tersebut dengan mudahnya menghilang. Sebuah pukulan tiba-tiba menghantamnya dan membuat Jung Woo tak sadarkan diri. Pria yang mengenakan mantel hitam mengambil uang dari dompet Jung Woo dan meninggalkan dompet Jung Woo.

POV Park Yi 
Jung Woo, seorang Interpol
 
Keesokan harinya, Hye Young berjalan mondar mandir seperti orang yang kehilangan akal. Orang yang dinanti-nantinya sama sekali tidak muncul. Tanpa sadar, Hye Young pun tertidur di kursi.

Seorang pria mendekat dan berdehem di dekat Hye Young. Hye Young sontak terbangun dan sedikit terkejut melihat Jung Woo.
“bagaimana kabarmu?” tanya Jung Woo
Hye Young menundukkan kepala pertanda salam. Hye Young kembali dikejutkan dengan tangan Jung Woo yang terbalut perban.
“oh ini, hanya keseleo, akan baik dalam beberapa hari” ucap Jung Woo mengerti kekhawatiran Hye Young
“apa yang terjadi?” tanya Hye Young penasaran
“hujan begitu deras kemarin dan aku terpeleset. Apakah anda menunggu lama kemarin?” tanya Jung Woo
“ah tidak…. Maksudku sedikit, apa sudah bisa dimulai?”
Jung Woo duduk tepat di hadapan Hye Young. Jung Woo mulai berpose lucu yang membuat Hye Young tertawa.
 
POV Hye Young
Aku suka menghabiskan waktu bersamanya
 
Tepat pukul 04.15 disaat Hye Young berada di toko Antik milik keluarganya, seseorang lagi-lagi mengirimkan sebuket bunga daisy padanya. “Flower” teriak suara misterus. Hye Young berlari sekencang-kencangnya dan terkejut saat melihat Jung Woo berdiri di depan tokonya dan tersenyum padanya.
 
“ah ini” ucap Jung Woo dan memberikan bunga daisy yang tergeletak di depan toko kepada Hye Young. Hye Young sedikit terkejut dan mengambil kesimpulan sesuai apa yang diprediksikannya kalau pria misterius selama ini yang selalu mengiriminya bunga daisy adalah Jung Woo. “boleh aku masuk?” tanya Jung Woo dan membuyarkan lamunan Hye Young.
 
Jung Woo mulai melihat seisi toko Antik milik keluarga Hye Young yang unik dan membuatnya terpana
“bagaimana kau tahu aku disini?” tanya Hye Young ketika Jung Woo melihat sebuah pigura foto
“aku tahu semuanya” jawab Jung Woo dan tertawa
“boleh aku memiliki ini? berapa harganya?”
“oh, ambil saja, anggap saja itu sebuah hadiah”
“bagaimana kalau kita bertukar, aku mengambil pigura ini dan kau mengambil kimchi ini, ini buatanku sendiri dan aku yakin kau susah menemukannya”
Hye Young tersenyum dan menyetujui usulan Jung Woo.

Hye Young mengajak Jung Woo ke ruang lukisnya. Jung Woo melihat lukisan dirinya yang tergeletak di meja dan bertanya pada Hye Young “bukankah kau mengatakan kalau lukisan ini tertumpah kopi?” tanya Jung Woo dan tersenyum. Hye Young hanya terdiam dan berusaha merebut lukisan dari tangan Jung Woo. Jung Woo hanya tersenyum melihat sikap Hye Young. Rupanya Hye Young sengaja berbohong agar bisa bertemu dan mengenal Jung Woo lebih dekat.
 
Perhatian Jung Woo teralih ke sebuah lukisan milik Hye Young. “tempat dimana ini?” tanya Jung Woo sambil tersenyum. Hye Young tidak menjawab dan melihat Jung Woo dan lukisannya secara bergantian.

POV Hye Young
Musim semi waktu itu, aku pergi kesana untuk melukis bunga daisy untuk sebuah pameran. Bagiku, daisy adalah bunga matahari kecil. Van Gogh melukis bunga matahari dan dialah orang yang membuatku ingin menjadi pelukis. Setelah jatuh aku terlalu takut untuk menyebrangi jembatan kayu jadi aku mengambil jalan memutar. Tetapi kemudian aku menemukan sebuah jembatan baru. Pada awalnya aku berpikir itu kebetulan, tetapi kemudian aku merasa ada seseorang yang sengaja membuatkan jembatan ini untukku. Keesokan harinya seseorang mengambil lukisan yang sengaja aku buat sebagai ucapan terima kasih dan aku pikir dia adalah orang yang membuatkan jembatan ini untukku. Setelah itu seseorang mulai mengirimkanku bunga daisy.

 
“aku melihat ke luar jendela dan berharap bisa melihat siapa pengirimnya, tetapi tidak ada seorang pun disana, jadi aku melukis dirinya sebagai bayangan, aku telah menunggunya dan kurasa aku telah menemukannya” ucap Hye Young pada Jung Woo sambil menunjukkan sebuah lukisan lainnya.

POV Jung Woo
Aku tidak bisa mengatakan kepadanya kalau itu bukan aku. Alih-alih berbohong atau mengatakan yang sebenarnya, aku memilih diam.

 
Jung Woo memandangi Hye Young dan menariknya dalam pelukannya. Hye Young tersenyum dalam pelukan Jung Woo.
 
POV Jung Woo
Tugasku adalah menangkap Bandar narkoba yang beroperasi antara Asia dan Amsterdam. Dari sini aku bisa melihat semuanya, persembunyian mereka, apotek dan tidak khawatir akan terlihat karena dia menghalangiku. Kali ke dua aku duduk di depannya dan aku merasa dia memiliki perasaan kepadaku.
Untungnya itu hanya pencuri kecil dan aku beruntung penyamaranku tidak terbongkar. Sekarang mereka harus tahu aku disini dan aku tahu aku menempatkan dirinya dalam bahaya dengan menjadi dekat dengannya. Tapi aku tidak bisa menahan diri, aku berharap akulah orang yang selama ini dia tunggu.

 
Seminggu setelah Jung Woo dari toko antik milik Hye Young, Jung Woo sering menghampiri Hye Young ke tempat dimana dia biasa melukis. Kali ini Jung Woo membawa sebuah bunga sebagai hadiah kepada Hye Young tetapi bukan bunga daisy. (bunga yang dibawa Jung Woo sewaktu pertama kali bertemu dengan Hye Young sengaja dibeli Jung Woo sebagai salah satu penyamarannya) 
“sudah seminggu dan tidak ada kiriman bunga lagi” ucap Hye Young
“ohhh, mungkin dia takut padaku” jawab Jung Woo dan tertawa
“sepertinya sudah tidak perlu bunga lagi karena aku sudah bisa melihatmu. Aku bisa menggambar anda sekarang dengan ingatanku”
“berapa banyak yang kamu tahu tentang diriku Hye Young?” tanya Jung Woo tiba-tiba yang membuat Hye Young sedikit terkejut dan tersenyum malu
“anda seorang pengusaha muda Korea yang sedang bekerja di Belanda, nama anda Jung Woo dan anda berusia 30 tahun, oh…. Dan anda sangat pandai membuat kimchi”
“bagaimana jika, aku tidak pandai membuat kimchi, apakah kamu masih perduli tentangku?”
“apa maksudmu?” tanya Hye Young tidak mengerti.
Tanpa disadari Hye Young dan Jung Woo, beberapa orang pria mendekat. Di pinggang salah satu pria terdapat sebuah pistol yang sengaja disembunyikan. Park Yi yang memang selalu memperhatikan Hye Young dari atas apartemennya menyadari hal tersebut. Park Yi mengambil senapan laras panjangnya dan menebak salah satu pria bertopi tepat sebelum pria tersebut mengeluarkan pistolnya.

Burung merpati beterbangan dan semua orang yang berada di jalanan histeris. Jung woo menarik Hye Young menyingkir dan mulai menembaki mereka satu persatu. Park Yi pun tidak tinggal diam dan ikut membantu dari atas apartemennya.
 
Hye Young melihat seorang anak kecil yang ketakutan. Hye Young berusaha ingin menolong namun sebuah tragedi pun terjadi padanya.
 
Jung Woo berusaha menembaki orang-orang yang tak dikenalnya dan tanpa sengaja melihat Park Yi di jendela apartemannya. Jung Woo mengarahkan pistolnya dan menembaki Park Yi. Tak cukup sampai disitu, Jung Woo mengejar Park Yi hingga ke apartemennya. Sebuah peluru menyasar ke kaki Jung Woo saat Jung Woo menaiki tangga. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Jung Woo berusaha bertahan dan mengejar Park Yi hingga ke balkon. Hasilnya nihil, Park Yi sudah tidak ada. Jung Woo melihat ke arah jalanan dan yang ada hanya tubuh-tubuh yang tak berdosa yang telah menjadi korban dan Hye Young yang dikerumuni beberapa orang.

POV Hye Young
Aku kehilangan suara karena sebuah peluru nyasar dan menyebabkanku shock. Mereka mengatakan kepadaku kalau Jung Woo terluka dan dikirim kembali ke Korea. Tapi aku tidak bisa mempercayainya.
 
Hye Young terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan leher diperban. Beberapa kertas ucapan “We Miss U” dari sahabat-sahabat terlihat di meja samping tempat tidur Hye Young. Seorang suster masuk ke kamar Hye Young dan meletakkan sepot bunga daisy yang masih segar.
 
Sementara itu di tempat lain, Park Yi memandangi lokasi kejadian tempat dimana gadis yang disukainya terluka.

POV Hye Young
Untuk menyambutku kembali bekerja lagi, Kakek mengambil foto. Ada seorang laki-laki berdiri diseberang jalan dalam foto. Jung Woo-si, mengapa ia tak datang dan menemuiku.
 
Hye Young kembali melukis di tempat yang sama. Walaupun rasa sedih masih menderanya, Hye Young sadar jika dia harus bangkit. Seorang pria mendekati Hye Young dan menyapanya.
“annyeonghaseyo, ya, aku orang Korea, anda orang Korea juga?” tanya Park Yi
Hye Young tersenyum dan mengambil kanvasnya.

POV Park Yi
Dia tampak begitu sedih, jadi aku tidak bisa lagi tinggal dibelakangnya dan hanya bersembunyi saja sebagai pria misterius

 
Hye Young mulai melukis Park Yi, namun lama kelamaan hasil lukisan Hye Young bukanlah wajah Park Yi melainkan wajah Jung Woo. Hye Young sedih dan mengganti kanvas dengan kanvas baru.
“gwaencanhayo?” tanya Park Yi
“aku minta maaf, aku akan mengulanginya lagi” tulis Hye Young di sebuah kanvas kosong
“aku akan datang lagi nanti” ucap Park Yi ketika melihat raut wajah Hye Young
“tidak, lain kali lukis aku lagi” jawab Park Yi saat Hye Young ingin mengembalikan uang yang diberikan Park Yi.
 
Hye Young bersiap-siap pulang. Saat menunggu kendaraan, sebuah mobil Jeep tiba-tiba berhenti di depannya. Hye Young mengenali Pria yang mengendarai mobil Jeep tersebut. Pria di atas mobil turun dan menawarkan untuk mengantar Hye Young pulang.

POV Park Yi
Aku dengannya sekarang, aku membawanya pulang.

 
Park Yi berpamitan pada Hye Young dan mengatakan kalau dirinya kebetulan tinggal tidak jauh dari toko antik milik keluarga Hye Young.
 
Keesokan harinya
Hye Young terkejut saat melihat Park Yi sudah berdiri menunggunya untuk mengantarnya pulang.
“halo, aku hanya kebetulan singgah, mari kita pulang bersama-sama” ucap Park Yi dan mengambil tas milik Hye Young yang berisikan kuas dan cat.

POV Hye Young
Karena aku tidak bisa bicara dia memainkan music untukku. Aku masih menunggu Jung Woo dan aku tidak bisa memberikan tempat dihatiku untuknya

 
Park Yi sedang asyik menonton televisi. Seseorang tiba-tiba datang dan meletakkan sepot bunga tulip hitam di depan rumahnya. Park Yi mengerti dari maksud bunga tulip hitam tersebut dan bergegas mengambil sebuah map yang berisikan info dan foto target selanjutnya.

POV Park Yi
Black Tulip, mengingatkan aku tentang siapa diriku. Gadis pembunuh dapat menjadi umpan dan sasaran.

 
Menjemput Hye Young sudah menjadi rutinitas baru Park Yi. Begitupun dengan hari ini. Tapi hari ini berbeda, Hye Young tiba-tiba mengajak Park Yi makan malam.
“apakah anda ingin makan malam dengan saya?” tulis Hye Young di sebuah note
“tentu, aku tahu sebuah tempat bagus disini” ucap Park Yi antusias
 
Kecanggungan terjadi diantara Park Yi dan Hye Young. Selain Hye Young yang tidak dapat berbicara, Park Yi juga harus segera pergi melakukan tugasnya.
“maaf, bisakah kau menungguku sebentar? Aku punya sesuatu untuk dilakukan, hanya sebentar, aku akan kembali” pinta Park Yi dan segera pergi. Hye Young hanya terdiam.

POV Hye Young
Sekali lagi aku menunggu. Kata Kakekku, orang tuaku akan datang, tetapi mereka sama sekali tidak datang dan karena anda Jung Woo, aku sekali lagi menunggu.

 
Park Yi berjalan cepat menuju ke sebuah hotel. Terlihat dua orang pasangan kekasih yang baru saja memasuki hotel yang menjadi tempat tujuan Park Yi. Park Yi berusaha menjaga jarak dengan pasangan kekasih tersebut. 
Tepat disaat mereka akan memasuki kamar, Park Yi mendekat dan menarik pelatuk pistolnya.

Dan disaat bersamaan lampu di restoran tempat Park Yi dan Hye Young makan malam tiba-tiba padam. Pelayan restoran membawa beberapa batang lilin dan meletakkannya di meja Hye Young.
“maaf, aku agak lama” ucap Park Yi dengan sebuah bunga daisy di tangannya
 
Hye Young mengeluarkan sebuah kanvas dan memberikannya kepada Park Yi. Park Yi tersenyum memandangi gambar dirinya yang berhasil dilukis Hye Young. Hye Young juga memberikan sebuah note kepada Park Yi “terima kasih atas semuanya, tetapi aku telah jatuh cinta pada orang lain”.
 
Park Yi tersenyum membaca pesan Hye Young “aku menyukai lukisan anda dan hanya ingin berteman denganmu”.

BERSAMBUNG ^____^

No comments:

Post a Comment